Sudah 2 Tahun Tak Kelar! Arisan Fiktif di Jember Pakai Nama Orang yang Tak Ikut, Ratusan Juta Terancam Hilang

0
img_20261101_191612

Jember, investigasinews.my.id – Ratusan warga Dusun Lamparan Desa Kertosari Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember mendatangi kantor desa setempat. Mereka merupakan korban arisan fiktif yang digelar oleh seorang warga bernama Solehatin. Para warga ini mengaku rugi hingga ratusan juta akibat arisan fiktif tersebut.

 

Kasus ini kemudian dimediasi oleh pihak desa didampingi Babinsa dan Bhabinkamtibmas, Minggu (1/11/2026) malam.

 

Salah seorang warga, Madinatul Munawaroh menceritakan, awalnya arisan putaran pertama dan kedua berjalan lancar. Namun putaran ketiga di tahun 2024 anggota arisan curiga, karena arisan tidak kelar-kelar dan bahkan banyak anggota belum dapat.

 

“Masalah ini sudah berlarut-larut sejak tahun 2024. Yang mana sistem arisan ini lotre botol. Setiap nama dimasukkan dalam botol dan di lotre, kategori arisan setiap minggu dapat 4,3 juta, dua minggu dapat 7,5 juta dan bulanan dapat 17 jutaan,” ujarnya.

 

Warga yang mulai curiga karena arisan tidak juga selesai lalu mendatangi rumah Solehatin.

 

“Karena gak selesai-selesai, akhirnya ibu-ibu anggota arisan bersama-sama datang ke rumah Solehatin untuk membongkar lotre yang sudah dibuatnya. Disitu ditemukan banyak nama-nama fikif yang dimasukkan dalam lotre, nama yang gak ikut arisan ada disitu. Jadi ada arisan fiktif disini, karena anggotanya bodong,” ungkapnya.

 

“Saya sendiri Rp25 juta, lalu kebanyakan ada yang Rp9,8 juta yang bulanan, dua mingguan Rp7 jutaan dan mingguan 4 jutaan. Kalau di total keseluruhan sampai di Rp400 jutaan. Total hingga saat ini yang laporan ada 54 korban, yang mana nominal berbeda-beda karena ada tiga kategori arisan,” lanjutnya.

 

Anggota arisan ini mencapai ratusan orang. Sampai sekarang, para korban ini menunggu etikad baik dari ketua arisan.

 

“Kami sudah lapor polisi 17 maret 2025. Keinginan kami, ketua arisan segera melakukan pembayaran, karena banyak korban dari kurang mampu, menengah, yang mana setiap hari nyari uang Rp20 ribu susah,” tuturnya,

 

Karena selalu berkelit-kelit, korban arisan lalu menagih kepada Solehatin di balai desa.

 

“Yang paling banyak korban arisan mingguan, belum terbayarkan sampai sekarang. Kami sudah cukup menunggu selama dua tahun. Kita menunggu etikad baik penjualan sawah. Janjinya sudah dari dua tahun, tapi kita belum menerima,” terangnya.

 

Korban lain Aswati menambahkan, dimana saat lotre arisan yang dapat atas nama orang lain yang bukan anggota.

 

 

“Ada orang yang ngena, tapi dia gak ikut, uangnya diambil ketua. Ada 8 nama yang tidak ikut, dari situ terbongkar,” tambahnya.

 

“Mungkin dari dulu uangnya diambil sendiri, pakai nama ornag lain. Ngakunya orang jualan di pasar, dan ternyata tidak ikut arisan,” sambungnya.

 

Sementara itu, Kepala Desa Kertosari, Budi Wijayanto mengatakan, pihaknya sudah tiga kali melakukan mediasi perihal keresahan warga tentang arisan yang hingga kini belum terbayarkan. Hasil mediasi, ketua arisan Solehatin berjanji akan menjual tanah sawahnya. Dalam pertemuan ia juga memberikan surat perjanjian dan menyerahkan jaminan berupa Surat Akta Tanah.

 

“Kita memfasilitasi dan memediasi pertemuan tentang masalah arisan ini. Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala dusun, masyarakat korban juga hadir,” pungkasnya.(red)

– Ratusan warga Dusun Lamparan Desa Kertosari Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember mendatangi kantor desa setempat. Mereka merupakan korban arisan fiktif yang digelar oleh seorang warga bernama Solehatin. Para warga ini mengaku rugi hingga ratusan juta akibat arisan fiktif tersebut.

 

 

 

 

Kasus ini kemudian dimediasi oleh pihak desa didampingi Babinsa dan Bhabinkamtibmas, Minggu (1/11/2026) malam.

 

 

 

 

Salah seorang warga, Madinatul Munawaroh menceritakan, awalnya arisan putaran pertama dan kedua berjalan lancar. Namun putaran ketiga di tahun 2024 anggota arisan curiga, karena arisan tidak kelar-kelar dan bahkan banyak anggota belum dapat.

 

 

 

 

“Masalah ini sudah berlarut-larut sejak tahun 2024. Yang mana sistem arisan ini lotre botol. Setiap nama dimasukkan dalam botol dan di lotre, kategori arisan setiap minggu dapat 4,3 juta, dua minggu dapat 7,5 juta dan bulanan dapat 17 jutaan,” ujarnya.

 

 

 

 

Warga yang mulai curiga karena arisan tidak juga selesai lalu mendatangi rumah Solehatin.

 

 

 

 

“Karena gak selesai-selesai, akhirnya ibu-ibu anggota arisan bersama-sama datang ke rumah Solehatin untuk membongkar lotre yang sudah dibuatnya. Disitu ditemukan banyak nama-nama fikif yang dimasukkan dalam lotre, nama yang gak ikut arisan ada disitu. Jadi ada arisan fiktif disini, karena anggotanya bodong,” ungkapnya.

 

 

 

 

“Saya sendiri Rp25 juta, lalu kebanyakan ada yang Rp9,8 juta yang bulanan, dua mingguan Rp7 jutaan dan mingguan 4 jutaan. Kalau di total keseluruhan sampai di Rp400 jutaan. Total hingga saat ini yang laporan ada 54 korban, yang mana nominal berbeda-beda karena ada tiga kategori arisan,” lanjutnya.

 

 

 

 

Anggota arisan ini mencapai ratusan orang. Sampai sekarang, para korban ini menunggu etikad baik dari ketua arisan.

 

 

 

 

“Kami sudah lapor polisi 17 maret 2025. Keinginan kami, ketua arisan segera melakukan pembayaran, karena banyak korban dari kurang mampu, menengah, yang mana setiap hari nyari uang Rp20 ribu susah,” tuturnya,

 

 

 

 

Karena selalu berkelit-kelit, korban arisan lalu menagih kepada Solehatin di balai desa.

 

 

 

 

“Yang paling banyak korban arisan mingguan, belum terbayarkan sampai sekarang. Kami sudah cukup menunggu selama dua tahun. Kita menunggu etikad baik penjualan sawah. Janjinya sudah dari dua tahun, tapi kita belum menerima,” terangnya.

 

 

 

 

Korban lain Aswati menambahkan, dimana saat lotre arisan yang dapat atas nama orang lain yang bukan anggota.

 

 

 

 

 

 

 

“Ada orang yang ngena, tapi dia gak ikut, uangnya diambil ketua. Ada 8 nama yang tidak ikut, dari situ terbongkar,” tambahnya.

 

 

 

 

“Mungkin dari dulu uangnya diambil sendiri, pakai nama ornag lain. Ngakunya orang jualan di pasar, dan ternyata tidak ikut arisan,” sambungnya.

 

 

 

 

Sementara itu, Kepala Desa Kertosari, Budi Wijayanto mengatakan, pihaknya sudah tiga kali melakukan mediasi perihal keresahan warga tentang arisan yang hingga kini belum terbayarkan. Hasil mediasi, ketua arisan Solehatin berjanji akan menjual tanah sawahnya. Dalam pertemuan ia juga memberikan surat perjanjian dan menyerahkan jaminan berupa Surat Akta Tanah.

 

 

 

 

“Kita memfasilitasi dan memediasi pertemuan tentang masalah arisan ini. Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala dusun, masyarakat korban juga hadir,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *